Aroma singkong yang baru dikukus menyambut setiap orang yang datang ke Desa Bukuran. Di salah satu sudut desa, seorang ibu dengan terampil mengaduk tiwul hangat yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak puluhan tahun lalu.
"Kalau dulu, tiwul adalah makanan sehari-hari kami," ujarnya sambil tersenyum. Ketika beras belum mudah didapat, singkong menjadi penyelamat. Dari singkong yang dikeringkan dan diolah dengan penuh kesabaran, lahirlah tiwul yang kini menjadi kebanggaan Desa Bukuran.
Keistimewaan tiwul Desa Bukuran tidak hanya terletak pada sejarahnya, tetapi juga pada proses pembuatannya yang masih mempertahankan cara tradisional. Singkong yang telah dipanen terlebih dahulu dikupas, dipotong, lalu dijemur hingga menjadi gaplek. Setelah kering, gaplek ditumbuk atau digiling menjadi butiran halus sebelum diberi sedikit air dan dibentuk menjadi butiran tiwul. Selanjutnya, tiwul dikukus menggunakan kendil atau kukusan tradisional berbahan tanah liat, sebuah alat warisan leluhur yang masih digunakan hingga saat ini.
Penggunaan kendil tanah liat dipercaya mampu menjaga aroma alami singkong serta menghasilkan tekstur tiwul yang lebih khas. Proses sederhana ini menghasilkan tiwul yang lembut, pulen, dan nikmat saat disantap.
Menariknya, tiwul di Desa Bukuran hadir dalam dua cita rasa utama, yaitu manis dan gurih. Tiwul manis menawarkan rasa yang hangat dan akrab di lidah, sementara tiwul gurih memberikan sensasi cita rasa yang berbeda namun tetap autentik. Untuk menyesuaikan selera pengunjung, tiwul juga hadir dalam berbagai varian rasa, seperti cokelat, keju, gula jawa, dan gula pasir. Perpaduan rasa tradisional dan modern ini menjadikan tiwul semakin menarik bagi berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Selain memiliki cita rasa yang khas, tiwul Desa Bukuran juga sangat ramah di kantong. Pengunjung dapat menikmati satu porsi tiwul dengan harga yang terjangkau, yaitu sekitar Rp15.000–Rp30.000 per porsi, tergantung varian dan penyajiannya.
Setiap gigitan tiwul bukan hanya menghadirkan rasa yang lezat, tetapi juga membawa cerita tentang perjuangan, kebersamaan, dan kearifan masyarakat dalam memanfaatkan hasil bumi lokal. Dari generasi ke generasi, tradisi ini terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.
Karena di Desa Bukuran, tiwul bukan sekadar makanan. Tiwul adalah cerita. Cerita tentang masa lalu yang tetap hidup hingga hari ini, dalam kelembutan teksturnya, kelezatan rasanya, dan nilai budaya yang diwariskan oleh masyarakat desa.