Di sebuah sudut tenang, tepatnya di Dukuh Bapang, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen terdapat sebuah sumber mata air yang dikenal masyarakat dengan nama "Banyu Ripan" atau "Kahuripan" yang memiliki arti sumber kehidupan. Nama tersebut bukan tanpa alasan, karena sejak dahulu mata air ini dipercaya menjadi sumber kehidupan bagi warga sekitar. Airnya jernih, alami, dan hingga sekarang tidak pernah berhenti mengalir.
Masyarakat setempat memiliki cerita bahwa pernah terjadi musim kemarau panjang hingga dua tahun lamanya. Banyak sumber air mulai mengering, namun Banyu Ripan tetap mengalir seperti biasa. Dari situlah masyarakat semakin percaya bahwa mata air tersebut memiliki nilai penting bagi kehidupan warga. Airnya dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, bahkan ada juga orang dari pondok pesantren yang mengambil air dari sumber tersebut untuk kebutuhan mereka.
Di kawasan Ndayu, masyarakat juga mengenal sumber air lain yang disebut "Sumur Mas". Kedua sumber air ini menjadi bagian dari sejarah dan kehidupan masyarakat sekitar sejak lama. Dahulu tempat tersebut masih belum tertata dengan baik dan hanya dikenal oleh warga sekitar. Namun seiring waktu, masyarakat mulai menyadari bahwa tempat itu bukan hanya sumber air biasa, melainkan juga peninggalan sejarah yang perlu dijaga keberadaannya.
Saat ini, pengelolaan kawasan sumber air tersebut dilakukan secara sederhana oleh warga kampung setempat, meskipun belum berada langsung di bawah pengelolaan desa. Di sekitar lokasi juga tersedia kotak infaq yang digunakan untuk membantu perawatan area sumber mata air. Hal ini menunjukkan adanya kepedulian masyarakat untuk menjaga kelestarian tempat tersebut agar tetap bersih dan bermanfaat bagi banyak orang.
Keberadaan Banyu Ripan tidak hanya menjadi sumber air, tetapi juga menjadi simbol ketahanan dan harapan masyarakat Desa Bukuran. Di tengah perkembangan zaman, mata air alami yang tetap mengalir tanpa henti ini menjadi pengingat bahwa alam dan sejarah desa merupakan warisan yang harus dijaga bersama.